Photo by Štefan Štefančík on Unsplash

SAYA punya ide dan bahan yang cukup jika ditulis menjadi sebuah buku. Tapi saya tak punya waktu  untuk menulis buku.

Dua kalimat di atas seringkali saya dengar dari orang-orang yang tahu kalau saya adalah jurnalis. Ketika awal mendengar kalimat di atas biasanya saya menyarankan untuk menghubungi penerbit.

Namun itu sekian tahun lalu, sebelum saya tahu adanya profesi ghost writer atau penulis bayangan. Sebuah profesi yang pekerjaannya memang membantu kliennya untuk menyusun ide dan bahan yang dimiliki klien menjadi karya yang utuh. Karya bisa berupa buku, pidato, esai dan lainnya.

Keterbatasan waktu memang menjadi alasan utama seseorang untuk mewujudkan ide-ide dan materi yang ia miliki untuk menjadi sebuah buku. Misalnya; seorang direktur sebuah perusahaan ingin berbagi inspirasi tentang bagaimana ia dari keluarga biasa-biasa saja kemudian berjuang dari bawah dan berhasil.

Tentu di tengah kesibukan mengurusi perusahaan ia tidak punya waktu menuliskan perjalanan hidupnya. Di sisi lain ia ingin berbagi kisah hidupnya untuk dibaca generasi muda. Ghost writer atau penulis bayangan bisa menyelesaikkan persoalannya dalam menulis buku.

Contoh lain misalnya, seorang praktisi bisnis ingin membuat buku yang berisi tips-tips menjalankan sebuah usaha. Ia ingin berbagi cerita untuk sukses dalam menjalankan usaha. Termasuk membangun reputasi di dunia usaha.

Ia punya rahasianya, punya cara praktisnya karena dia juga pelaku bisnis. Tapi ia tak punya waktu untuk menulis buku. Bukan hanya tidak punya waktu, tapi tidak tahu bagaimana caranya.

Atau kisah lainnya, seorang pengusaha yang juga tokoh masyarakat ingin mewariskan sesuatu kepada anak cucunya. Ia berpikir, sebuah warisan yang tidak pernah akan habis dikonsumsi atau dipakai. Apa itu? Sebuah kisah hidup yang dituliskan dalam sebuah buku.

Pengusaha ini berpikir dengan sebuah buku yang berisi cara pandangnya dalam mengarungi kehidupan, maka setidaknya hal itu menjadi harta warisan yang tidak pernah akan habis. Buku tersebut akan abadi dan diwariskan kepada anak cucu.

Ghost writer atau penulis bayangan menjadi solusi dari persoalan tidak adanya waktu atau tidak tahu langkah pertama yang akan dilakukan dalam menulis. Tentu saja nama yang akan tertera di buku tersebut adalah nama klien, dan itu legal. Karena ide dan bahan baku buku tersebut memang berasal dari klien.

Bisa saja, ghostwriter atau penulis bayangan tersebut tercantum dalam buku tersebut. Itu bisa dibicarakan. Atau bisa saja ghost writer ini menjadi penulis pendamping (co-writer). Adanya ghostwriter atau penulis bayangan maka tidak ada lagi pertanyaan,”Tidak punya waktu menulis buku.”

1 thought on “Penulis Bayangan, Untuk yang Tak Punya Waktu Menulis Buku

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *